Designer Muda Pamekasan Pembuat Batik Sultan HB X

Di Post pada : 2017-03-31 Oleh admin : Disperindag Pamekasan

PAMEKASAN - Sosoknya sangat sederhana dan masih tergolong muda, Hadi pria kelahiran 1985 ini sudah dikenal oleh beberapa fashion designer terutama kain batik di Nusantara.

Berawal keterpaksaan menjadi pembatik untuk menyambung hidup, Hadi kecil yang hidup di Dusun Podhek desa Rangperang Daya Kec. Palengaan Pamekasan Madura akhirnya menjadi pembatik yang diperhitungkan di Indonesia.

"Terpaksa dulunya dan bahkan saat kecil saya malu disebut anak pembatik, bahkan lebih bangga sebagai petani," ujarnya kepada Radio Karimata.

Namun proses tempaan hidup itu justru membuat dirinya bangkit, dimulai dari menjadi juara lomba design batik awal 2010an. Keterampilan membatik Hadi (32) selain karena keturunan juga karena hoby melukis kaligrafi sejak di pondok pesantren.

"Saya kenal dengan mas Edisut staf di Disperindag yang lama kelamaan akrab di Madura Photo Club, saya juga bersyukur karena berkat beliau saya dikenalkan dengan Dr. Lintu Tulistiantoro peneliti sekaligus Disainer batik," ceritanya.

Beberapa kali pernah juara dan nominator lomba Design, bahkan pernah mendapat penghargaan dari Menko Perekonomian Puan Maharani melalui Universitas UI Depok sebagai salah satu Pelestari Budaya Batik Nusantara tahun 2016.

"Awal semakin semangat membatik karena niat saya ingin merubah profesi membatik menjadi suatu yang menguntungkan dan membanggakan, dan ternyata orang-orang yang saya temui selalu memberi semangat," kata Pria Lajang yang juga Santri Al Islah Beringin Palengaan Pamekasan ini.

Prestasi yang tak tertulis juga ketika Hadi membuat design Batik untuk tokoh-tokoh besar. Namun di tahun 2017 moment tak terlupakan ketika harus membuat design batik untuk Kanjeng Sri Sultan Hamengkubuwana X dalam acara Gebyar Batik Pamekasan 2017 di Pendopo Royal Ambarrukmo Yogyakarta 25-26 Maret 2017.

"Bangga luar biasa, pertama diberitahu pak Bambang Edi Kadisperindag, hampir sepekan merenungkan sebelum muncul ide, motif kembheng Tegghel morif kuno Madura dan parang rusak, karena motif itu ciri untuk bangsawan di Jawa" Ujarnya.

Kendala terbesar bagi Hadi ketika dirinya tidak pernah bertemu dan tidak tahu ukuruan badan Sri Sultan, sebab motif tersebut harus bisa menyesuaikan dengan ukuran badan.

"Sempat bingung karena penjahit baju beliau nanti mengikuti pola dan motif batik sesuai ukuran Sri Sultan. Namun mendapat info dari pihak keraton Yogyakarta," katanya.

Berselang beberapa pekan dikerjakan, motif batik untuk Sri Sultan selesai dan diserahkan kepada fashion Designer atau penjahit baju Sultan. Namun kabar mengejutkan dari penjahit, ternyata saat proses jahit tersebut, kain dinyatakan tidak cukup, padahal sudah sangat diperhitungkan dan pengerjaan Batik Podhek memerlukan ketelitian dan waktu cukup lama membuatnya.

"Hampir sepekan acara saya panik, tapi saya nekat menyatakan ke penjahitnya agar selesaikan aja dulu baju tersebut, namun segera saya panggil pembatik saya membuat kembali bekerja siang malam selama 3 hari," paparnya.

Namun entah bagaimana bisa terjadi, H min 4 acara Hadi kembali mendapat telpon dari sang penjahit dan pihak keraton, ternyata baju yang selesai dijahit tersebut pas untuk dipakai Sri Sultan Hamengkubuwana X.

"Saya sempat terharu dan lega mas mendapat kabar tersebut, apalagi kemarin saat acara respon Sri Sultan serta pihak keraton sangat senang dan mengagumi batik khas Pamekasan," kata Hadi dengan mata berkaca-kaca.

Dalam acara Gebyar Batik Pamekasan 2017 dengan tema Batik Pengabdian Cinta Tak Berkata tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwana X menggunakan batik Podhek dengan dominan warna hitam-putih, kombinasi motif Madura dan Bangsawan Yogyakarta.

"Ini lebih dari sebuah Juara lomba mas, karena ini sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi saya, dipakai oleh seorang Sultan, tokoh di wilayah yang sangat menghargai dan melestarikan batik ya di DI Yogyakarta ini," Kata Hadi usai menjadi pemateri Sarasehan Batik di Pendopo Royal Ambarrukmo Yogyakarta. (Hendra/karimata)