Kokohkan Ikon Batik Pamekasan di Jatim, Gelar Gebyar Batik Selama Sehari

SURABAYA – Batik adalah bagian dari budaya dan ciri khas bangsa Indonesia.
Untuk lingkup Jatim, Pamekasan adalah sentra batik dan jadi ikon batik.

Demi mengangkat ciri khas batik tulis dan mempopulerkan Batik Pamekasan, maka digelarlah Gebyar Batik Pamekasan selama sehari, Sabtu (27/10/2018), yang diikuti 10 perajin Batik Pamekasan.

Batik tak akan bisa lepas dari ikon Pamekasan.

Bupati Pamekasan, Badrut Tamam menuturkan, batik sebenarnya sudah ada sebelum lahirnya Pamekasan, yang saat ini sudah berusia 488 tahun.

Dengan begitu, maka Batik Pamekasan jauh lebih punya nilai historis tinggi, dibandingkan usia negara ini yang baru menginjak 73 tahun.

“Kekhasan Batik Pamekasan juga hanya ada di Indonesia, sehingga tak ada alasan untuk tak mencintainya,” ujarnya dalam temu awak media di Quest Hotel, Kamis (25/10/2018).

Bagi orang Pamekasan, batik tak hanya sekadar busana yang nyaman dipakai dan punya motif yang bagus.

Batik bisa diibaratkan pusaka yang memiliki tuah besar, terutama dari sisi umur batik yang semakin tua.

Selain itu, dari kualitas garapan juga memengaruhi kesukaan pada batik.

Selama ini, Batik Pamekasan dibuat dengan garapan halus, karena jenis canting yang berbeda, dan teknik batik tulis terus dipertahankan para perajin batik.

“Banyak daerah yang mulai menggunakan batik printing atau cap untuk menghasilkan batik secara kuantitas. Namun, Batik Pamekasan tetap konsisten menggunakan batik tulis untuk menjaga kualitas, sekaligus memberdayakan perajin batik di Pamekasan,” tutur bupati yang baru menjabat selama sebulan ini.

Ikon batik di Pamekasan yang begitu kuat, menjadikan 11 kecamatan dari total 13 kecamatan, terdapat sentra batik.

Selain itu, saat ini di Pamekasan terdapat 4.000-5.000 perajn batik yang tersebar di sana.
Peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi mikro dari UMKM ini sebenarnya besar, meski Pamekasan sering dianggap kabupaten kelas tiga di Jatim.

“Tuah dari batik yang dipadu pemasaran modern, akan menghasilkan ikon batik di Jatim sekaligus benefit untuk perajin dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” terangnya.

Beberapa kebijakan sedang dibuatnya, mulai dari rencana menghias semua mobil dinas Pemkab Pamekasan dengan motif batik.

Kemudian menghias Stadion Pamekasan dengan motif batik, dan membuat gebyar batik Pamekasan.

“Ini adalah event kedua, dimana tahun lalu digelar di Yogyakarta. Event yang kedua ini diharapkan bisa mengokohkan ikon Batik Pamekasan di Jatim dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Sedangkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, Bambang Edy Suprapto menjelaskan, dalam Gebyar Batik Pamekasan ini, pemkab akan membawa 10 UMKM atau perajin batik ke Surabaya untuk memamerkan karya batik terbaik.

Ada juga satu desainer lokal yang akan menampilkan fashion show Batik Pamekasan.
“Konsepnya adalah batik dari masa ke masa,” urainya.

Tak hanya batik, gebyar nanti juga akan berkolaborasi dengan musik secara langsung, dengan tampilnya gamelan dan tarian.

Belasan kuliner khas Pamekasan, mulai rujak cingur hingga lupis, juga akan menyuguhkan makanan terbaik.

“Para pecinta batik yang diundang lebih dari 300 orang. Sedangkan target penjualan event ini lebih dari Rp 200 juta,” pungkasnya. [Sumber: surabaya.tribunnews.com]

Bagikan Artikel

Be the first to comment

Leave a Reply