Kagum Motif Batik Pamekasan yang Kontemporer, Gubernur Khofifah Borong Batik di Pasar 17 Agustus

PAMEKASAN – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghabiskan waktu sorenya dengan jalan-jalan di Pasar 17 Agustus di Kabupaten Pamekasan, Madura, Sabtu (13/4/2019).

Usai giat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Darmin Nasution, Gubernur Khofifah memutuskan untuk keliling Pasar 17 Agustus dan berburu batik Pamekasan.

Bukan tanpa alasan, pasalnya menurut wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini, batik Pamekasan memiliki ciri

khas tersendiri. Yaitu memiliki detail motif yang khas, modelnya selalu berkembang, dan warnanya dan motifnya juga kontemporer.

“Kualitas batik Tanjung Bumi sangat keren, tapi Batik Pamekasan juga tak kalah keren. Detailnya, modelnya, dan warnanya batik Pamekasan ini sangat kontemporer,” kata Khofifah disela memilih batik di stan-stan pasar.

Pasar 17 Agustus Pamekasan saat didatangi Khofifah banyak yang sedang tutup. Pengunjungnya juga sepi. Namun tak menghalangi Khofifah untuk bersapa hangat dengan masyarakat dan berbincang sembari memilih batik Pamekasan.

“Kalau saya ini pecinta Batik Madura. Saya bahkan bisa nebak oh ini batik Pamekasan, atau Batik Tanjung Bumi. Seperti yang dipakai oleh Pak Menko Darmin itu batik Pamekasan,” kata Khofifah.

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan bahwa promosi yang dilakukan oleh Pemkab Pamekasan begitu gencar ke wisatawan terkait Batik Pamekasan. Hal itu patut diapresiasi, dan sangat layak untuk ditiru diapresiasi agar bisa membuat produk asli warga Pamekasan bisa melejit.

Saat sibuk memilih, tak sedikit pengunjung pasar yang mengerubuti dan meminta berfoto dengan gubernur perempuan pertama Jawa Timur itu.

Batik yang dijual di stan-stan Pasar 17 Agustus ini sangat variatif. Bahkan batik tulis yang dijual di stan satu dengan yang lain dipastikan berbeda. Harganya pun bervariasi. Mulai Rp 150 ribu hingga Rp 750 ribu. Bergantung dengan jenis dan kualitasnya.

Saat berjalan menyusuri lorong lorong Pasar 17 Agustus, Khofifah mengaku tidak banyak yang berubah dari pasar batik Pamekasan ini dibandingkan sepuluh tahun yang lalu saat ia datang ke tempat ini.

“Saya mau lihat progres dari 10 tahun pasar ini ternyata belum jauh berubah. Maka kalau kita sama-sama bisa melihat di sini maka mana yang kita bisa saling berbenah,” kata Khofifah.

Ia lalu menyebut lapak-lapak yang digunakan pedagang berjualan batik. Menurutnya akan lebih nyaman bagi pembeli dan penjual jika tempatnya lebih nyaman bagi pembeli misalnya dengan lesehan saat memilih batiknya.

“Kebayang nggak kalau di sini hujan bagaimana,” tambahnya.

Khofifah berharap tempat ini, di Pasar 17 Agustus Pamekasan ini bisa menjadi salah satu sentra penjualan Batik. Yang dengan menonjolkan kekhasan batik Pamekasan bisa menjadi rujukan dan jujugan wisatawan saat ingin mencari oleh-oleh khas dari Pamekasan.

“Rasanya di Pamekasan ini potensi itu ada. Misalnya membuat perkampungan Batik Pamekasan, itu akan lebih homie, pembelinya bisa memilih sambil lesehan, lalu ada musholahnya, maka penjualnya juga akan nyaman sekali belanjanya,” pungkas Khofifah. (Tribune madura)

Bagikan Artikel

Be the first to comment

Leave a Reply